Lewati ke konten
Wawasan > Media

KETIKA EMOSI MEMBERI DORONGAN PADA IKLAN

2 menit dibaca | Maret 2017

Angka-angka telah lama dikenal sangat akurat tetapi benar-benar tidak mampu menilai aspek yang lebih lembut seperti emosi dan perasaan. Namun, memastikan bahwa audiens terhubung dengan pesan merek adalah batas pengukuran efektif berikutnya.

Konsumen saat ini mengakses konten di berbagai media, tetapi konsumen di India terus melihat iklan televisi sebagai salah satu sumber iklan yang paling dapat dipercaya. Namun, mengingat prevalensi TV dalam kehidupan konsumen, pemirsa dibombardir dengan lebih banyak iklan dari sebelumnya, sehingga jauh lebih sulit bagi merek dan agensi untuk membuat iklan yang benar-benar terhubung dengan audiens mereka. Jadi apa yang terlibat dalam membangun hubungan itu?

Industri media memiliki sejarah panjang solusi pengukuran yang menilai dampak iklan pada audiens yang dituju—memahami apa yang berhasil dan apa yang tidak. Tetapi mereka tidak menentukan apakah iklan menciptakan hubungan emosional dengan pemirsa. Ini merupakan peluang yang signifikan bagi pemasar karena penelitian menunjukkan bahwa keputusan pembelian didorong oleh emosi.

MENGUKUR EMOSI

Emosi tidak berwujud, dan mengukurnya bukanlah tugas kecil. Survei respons langsung dapat menyesatkan karena mereka menganggap bahwa responden dapat secara akurat mengungkapkan emosi mereka secara akurat. Respons verbal mengharuskan responden untuk mengekspresikan, dan karenanya merasionalisasi, emosi mereka sebagai perasaan. Emosi adalah reaksi naluriah terhadap rangsangan eksternal, sedangkan perasaan adalah interpretasi pikiran terhadap emosi-emosi itu; dan oleh karena itu, tunduk pada bias pribadi, budaya, latar, pengalaman masa lalu dan keyakinan yang mendarah daging. Selain itu, banyak emosi tidak merusak permukaan kesadaran sadar, sehingga tidak mungkin untuk diartikan sebagai perasaan.

Bagi banyak peneliti modern, menggunakan teknik yang dapat secara langsung mengukur reaksi neurologis dan biologis adalah cara terbaik untuk mengevaluasi emosi. Reaksi-reaksi ini dapat mencakup detak jantung, keringat, postur tubuh, reaksi wajah, impuls listrik di daerah tertentu di otak, dll. Teknik-teknik tersebut secara kolektif disebut sebagai ilmu saraf, dan inovasi teknis baru-baru ini di bidang ini membantu membuka jalan baru dalam pemahaman kita tentang perilaku konsumen. Mereka juga menetapkan standar baru untuk pengujian iklan.

MENGGUNAKAN ILMU SARAF UNTUK PENGUJIAN IKLAN

Neuroscience memberikan pandangan yang mendalam dan jelas ke dunia nyata — reaksi real-time konsumen pada tingkat yang paling elemental: gelombang otak mereka. Otak manusia bereaksi terhadap rangsangan dalam milidetik, dan dengan menangkap reaksi ini jauh di dalam alam bawah sadar, ilmu saraf konsumen dapat mengungkapkan dengan tepat bagaimana konsumen memandang merek, pemasaran, dan pesan — pada tingkat yang paling terperinci. Respons murni, instan, dan tanpa filter yang diukur pada tingkat pikiran bawah sadar menawarkan wawasan yang jauh lebih akurat dan andal daripada metodologi penelitian konsumen lainnya.

Untuk detail selengkapnya, unduh laporan lengkap (kanan atas).